Category: Figma

  • Skill Figma yang Dicari Industri UI/UX Saat Ini

    skill figma

    Figma telah menjadi salah satu tools utama dalam dunia desain UI/UX profesional. Tidak hanya populer di kalangan freelancer atau pelajar, Figma juga menjadi standar di banyak perusahaan teknologi, startup, agensi digital, hingga tim produk di perusahaan besar. Karena itu, kemampuan bekerja dengan Figma bukan lagi sekadar “bisa buka aplikasi”, tetapi skill yang benar-benar dibutuhkan dan dicari oleh industri.

    Namun, apa saja kemampuan spesifik Figma yang membuat seorang desainer UI/UX lebih menonjol di mata recruiter dan klien? Artikel ini akan menjelaskan skill-skill Figma yang saat ini benar-benar diminati industri, baik untuk posisi junior, mid, maupun senior.

    Baca Juga: Kesalahan Umum Pemula Saat Desain di Figma

    Dasar Figma: Memahami Interface dan Workspace

    Skill pertama yang wajib dimiliki adalah pemahaman dasar antarmuka dan workspace Figma. Kamu perlu tahu bagaimana menavigasi layer, menggunakan tools utama seperti frames, shapes, dan alignment, serta memahami sistem toolbar dan inspector secara efisien.

    Industri mencari desainer yang bisa langsung produktif tanpa harus lagi dibimbing soal dasar tools—artinya kamu sudah nyaman bekerja dengan semua elemen dasar Figma sejak hari pertama.

    Membuat Wireframe Cepat dan Efisien

    Sebelum ke desain visual, proses UI/UX biasanya dimulai dari wireframe. Figma sangat kuat dalam pembuatan wireframe karena kamu bisa membuat struktur halaman dengan cepat dan mudah menyesuaikan layout.

    Industri menghargai desainer yang mampu membuat wireframe low-fidelity dan high-fidelity dengan cepat, mampu menyusun layout informasi secara logis, dan bisa menyampaikan ide desain secara jelas melalui struktur visual awal. Kemampuan ini menunjukkan bahwa kamu memahami langkah paling awal dari proses desain.

    Desain Interface yang Konsisten dan Rapi

    Skill Figma selanjutnya adalah kemampuan membuat desain interface yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga konsisten dan rapi. Desainer UI/UX harus memahami grid, spacing, tipografi, hierarki visual, dan penggunaan warna yang baik.

    Industri mencari desainer yang tahu bagaimana membangun tampilan antarmuka yang estetis sekaligus fungsional. Figma membantu dengan fitur-fitur seperti layout grids, auto layout (fitur penting untuk responsivitas), dan alignment tools. Desainer yang benar-benar mahir menggunakan fitur ini akan menghasilkan UI yang bersih, proporsional, dan bisa diadaptasi dengan cepat.

    Menguasai Komponen, Variants, dan Design System

    Figma sangat kuat dalam hal reusable components dan design system. Desainer yang mampu membuat component, variants, dan design tokens dengan baik akan sangat diandalkan. Ini karena component yang terstruktur membuat pekerjaan lebih efisien, memudahkan kolaborasi tim, serta memastikan konsistensi desain di seluruh produk.

    Industri saat ini lebih memilih desainer yang tidak hanya membuat satu tampilan, tetapi juga tahu bagaimana mengatur library dan design system agar bisa ‘dipakai ulang’ oleh tim lain.

    Auto Layout dan Responsive Design

    Auto layout adalah salah satu fitur Figma yang menjadi standar skill UI/UX profesional. Dengan auto layout, kamu bisa membuat desain yang otomatis menyesuaikan ketika ukuran tampilan berubah—kunci penting dalam membuat desain responsif.

    Industri menghargai desainer yang bisa membuat komponen responsif, memanfaatkan constraint, dan mengatur layout yang tidak pecah ketika dipindah ke layar dengan ukuran berbeda. Skill ini menunjukkan bahwa kamu memahami realitas penggunaan desain di berbagai device.

    Prototyping dan Interaksi Dinamis

    Figma tidak hanya untuk desain statis—fitur prototyping membuat desainer bisa membuat interaksi antar tampilan secara langsung. Industri ingin desainer yang bisa membuat prototype interaktif lengkap dengan transition, overlay, dan mikro-interaksi sederhana tanpa harus berpindah tools.

    Skill membuat prototype yang realistis membantu tim produk, developer, dan stakeholder memahami alur pengguna sebelum implementasi. Ini juga membantu proses usability testing yang dinamis.

    Kolaborasi Tim dan Handoff ke Developer

    Salah satu kekuatan Figma adalah kemampuan kolaborasi real-time. Desainer UI/UX modern dituntut mampu bekerja bersama tim lain, mulai dari product manager hingga developer.

    Skill yang dicari termasuk mengatur comment, menggunakan shared libraries, memberikan dokumentasi dan spesifikasi yang jelas, serta memanfaatkan fitur Inspect agar developer bisa mendapatkan ukuran, spacing, dan style dengan mudah saat handoff. Desainer yang memahami workflow ini akan dipandang sebagai aset tim yang bisa mempercepat proses delivery produk.

    Memahami UX Research di Figma

    Bukan cuma desain visual, industri juga menghargai jika desainer memahami dasar-dasar UX research. Figma sering dipakai dalam rangka documentasi research—mulai dari user journey map, empatiasi, hingga wireflow.

    Desainer UI/UX yang mampu memasukkan insight UX ke dalam file Figma mereka menunjukkan kemampuan berpikir strategis dan fokus pada kebutuhan pengguna, bukan hanya estetika tampilan.

    Versioning dan File Organization yang Baik

    Skill kecil yang sering diabaikan tetapi sangat penting adalah kemampuan mengatur versi desain dan struktur file yang baik. Industri ingin file yang mudah diikuti oleh orang lain, punya naming convention jelas, dan history yang terdokumentasi.

    Hal sederhana seperti memberi nama frame dengan fungsi yang jelas, mengelompokkan komponen secara logis, dan memanfaatkan pages untuk memisahkan ide akan membuat file kamu lebih profesional dan mudah dipakai tim besar.

    Skill Figma yang dicari industri UI/UX saat ini bukan hanya kemampuan membuat desain yang bagus secara visual, tetapi juga bagaimana desain itu dibuat secara sistematis, bisa dipakai ulang, mudah dipahami tim lain, dan siap diimplementasikan. Mengetahui fitur dasar saja tidak cukup—desainer profesional harus memahami fitur lanjutan seperti auto layout, design system, prototyping interaktif, serta workflow kolaboratif yang efisien.

    Jika kamu ingin menonjol di dunia UI/UX dan mempercepat karier di industri digital—baik sebagai desainer internal maupun freelancer—menguasai Figma dengan standar profesional adalah investasi skill yang sangat berharga.

    Baca Juga: Figma untuk Portofolio UI/UX yang Layak Dinilai

    Tingkatkan Skill Figma dan UI/UX di Karisma Academy!

    Kalau kamu ingin menguasai Figma dari dasar sampai teknik lanjutan yang dipakai industri UI/UX, Karisma Academy punya program yang cocok buat kamu!

    Di sini kamu akan belajar:

    ✔ Membuat UI/UX design yang rapi dan konsisten
    ✔ Menggunakan Auto Layout dan Design System secara profesional
    ✔ Membuat prototype interaktif yang siap diuji pengguna
    ✔ Teknik handoff ke developer yang disukai tim tech

    Belajar bareng mentor yang berpengalaman dan komunitas yang suportif.
    Daftar sekarang di Karisma Academy dan mulai langkahmu jadi UI/UX Designer profesional! ✔

  • Standar Desain UI di Figma untuk Proyek Nyata

    blog2.karismaacademy.com/ – Dalam proyek digital nyata, desain UI tidak bisa dibuat asal menarik. Setiap elemen harus mengikuti standar desain Figma agar mudah dikembangkan, konsisten, dan siap digunakan lintas tim. Inilah alasan mengapa banyak desain yang terlihat bagus secara visual tetap ditolak oleh perusahaan atau klien: karena tidak memenuhi standar kerja profesional.

    Figma bukan sekadar alat menggambar UI. Di dunia kerja, Figma digunakan sebagai pusat kolaborasi antara designer, product manager, dan developer. Karena itu, memahami standar desain menjadi kunci utama agar desain benar-benar siap produksi.

    Mengapa Standar Desain Figma Sangat Penting?

    Standar desain membantu tim:

    • Mempercepat proses desain dan revisi
    • Menjaga konsistensi antar halaman
    • Menghindari miskomunikasi dengan developer
    • Memastikan desain scalable untuk jangka panjang

    Tanpa standar yang jelas, desain mudah berantakan saat proyek berkembang.

    Baca Juga: Kesalahan Umum Pemula Saat Desain di Figma

    Standar Desain Figma yang Digunakan di Proyek Nyata

    1. Struktur File yang Rapi dan Terbaca

    Standar desain Figma dimulai dari file management.

    Praktik yang umum digunakan:

    • Pages terpisah untuk wireframe, UI, dan prototype
    • Section jelas untuk setiap fitur
    • Penamaan frame dan layer konsisten

    File yang rapi memudahkan siapa pun memahami desain tanpa penjelasan panjang.

    2. Penggunaan Design System

    Desain profesional selalu berbasis sistem.

    Standar yang wajib ada:

    • Color styles untuk semua warna
    • Text styles untuk heading, body, dan caption
    • Komponen UI yang reusable

    Design system menjaga konsistensi dan mempercepat perubahan desain.

    3. Components dan Variants sebagai Standar

    Dalam proyek nyata, elemen tidak dibuat satu per satu.

    Standar desain Figma mengharuskan:

    • Button, input, dan card dibuat sebagai component
    • Variants untuk state aktif, hover, disabled
    • Update satu komponen berdampak ke seluruh layar

    Ini membuat desain lebih efisien dan siap kolaborasi.

    4. Auto Layout untuk Responsif

    Auto layout bukan fitur tambahan, melainkan standar kerja.

    Digunakan untuk:

    • Mengatur padding dan spacing konsisten
    • Membuat desain fleksibel saat konten berubah
    • Mempersiapkan desain responsif

    Desain tanpa auto layout sering dianggap belum siap produksi.

    5. Konsistensi Visual dan Hierarki

    Standar desain Figma menuntut konsistensi tinggi.

    Yang dinilai:

    • Alignment dan spacing seragam
    • Hierarki visual jelas
    • Tidak ada elemen “loncat” antar halaman

    Konsistensi membantu user memahami produk dengan cepat.

    6. UX dan User Flow yang Jelas

    UI tidak bisa dipisahkan dari UX.

    Dalam proyek nyata:

    • Setiap layar memiliki tujuan
    • Navigasi mengikuti user flow
    • Tidak ada langkah membingungkan

    Desain dinilai dari seberapa mudah digunakan, bukan seberapa ramai tampilannya.

    7. Kesiapan Design Handoff

    Standar desain Figma juga mencakup kesiapan untuk developer.

    Biasanya meliputi:

    • Spacing dan ukuran jelas
    • Style konsisten
    • Komentar atau catatan penting

    Desain yang siap handoff mempercepat proses development.

    Kesalahan Umum yang Tidak Sesuai Standar

    Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

    • File berantakan dan sulit dibaca
    • Tidak menggunakan components
    • Warna dan font tidak konsisten
    • Mengabaikan auto layout
    • Desain tidak mempertimbangkan UX

    Kesalahan ini membuat desain terlihat “latihan”, bukan proyek nyata.

    Standar desain Figma adalah fondasi utama dalam proyek digital profesional. Dengan struktur file yang rapi, design system yang konsisten, penggunaan components, auto layout, serta pemahaman UX, desain akan lebih siap digunakan di dunia kerja dan dinilai profesional oleh tim maupun klien.

    Baca Juga: Standar Desain UI di Figma untuk Proyek Nyata

    Pelajari Standar Desain Figma Profesional di Karisma Academy

    Karisma Academy membantu kamu memahami standar desain Figma sesuai kebutuhan industri:

    • Materi berbasis workflow proyek nyata
    • Latihan membangun design system
    • Simulasi kerja tim UI/UX
    • Sertifikat resmi untuk CV dan LinkedIn

    👉 Gabung sekarang di Karisma Academy
    Tingkatkan skill Figma kamu agar desain benar-benar siap dipakai di proyek nyata 

  • Skill Figma yang Membedakan Junior dan Senior Designer

    blogkarismaacademy.com – Di dunia UI/UX dan desain digital, banyak orang bisa menggunakan Figma. Namun, tidak semua desainer bisa disebut figma profesional. Perbedaan antara junior dan senior designer bukan terletak pada seberapa banyak fitur yang diketahui, melainkan bagaimana Figma digunakan sebagai alat berpikir, berkolaborasi, dan mengeksekusi desain secara strategis.

    Senior designer dinilai bukan hanya dari visual yang rapi, tetapi dari cara kerja yang efisien, konsisten, dan siap masuk workflow tim profesional.

    Mengapa Skill Figma Profesional Sangat Menentukan?

    Perusahaan dan studio desain menggunakan Figma sebagai tools utama karena:

    • Mendukung kolaborasi lintas tim
    • Mempercepat workflow desain ke development
    • Memungkinkan sistem desain yang scalable

    Karena itu, skill Figma menjadi indikator kesiapan seseorang untuk bekerja di lingkungan profesional.

    Baca Juga: Kesalahan Umum Pemula Saat Desain di Figma

    Skill Figma yang Membedakan Junior dan Senior

    1. Cara Mengelola File dan Struktur Kerja

    Junior biasanya:

    • File bercampur tanpa section jelas
    • Layer tidak konsisten
    • Penamaan asal-asalan

    Senior designer:

    • Menggunakan pages, sections, dan frame terstruktur
    • Penamaan layer rapi dan mudah dipahami
    • File siap dipakai tim lain tanpa penjelasan panjang

    Struktur file mencerminkan mindset kerja profesional.

    2.  Penguasaan Components dan Variants

    Skill figma profesional selalu terlihat dari sistem desain.

    Junior:

    • Copy–paste elemen berulang
    • Tidak menggunakan variants

    Senior:

    • Semua elemen dibuat sebagai component
    • Variants digunakan untuk state (hover, active, disabled)
    • Konsistensi desain terjaga di seluruh layar

    Hal ini mempercepat revisi dan memudahkan kolaborasi.

    3. Auto Layout sebagai Standar, Bukan Opsional

    Banyak junior masih menganggap auto layout rumit.

    Padahal senior designer:

    • Menggunakan auto layout untuk semua UI utama
    • Memahami padding, spacing, dan alignment dinamis
    • Menyiapkan desain yang responsive

    Auto layout adalah syarat wajib dalam figma profesional.

    4. Pemahaman UX, Bukan Sekadar UI

    Junior sering fokus pada tampilan visual.

    Senior designer:

    • Memikirkan user flow sejak awal
    • Menentukan hierarki informasi dengan jelas
    • Mendesain berdasarkan kebutuhan user, bukan tren semata

    Skill UX inilah yang membuat desain terasa “berfungsi”, bukan hanya “cantik”.

    5. Kolaborasi dan Komunikasi di Figma

    Senior terbiasa bekerja dalam tim.

    Ciri skill profesional:

    • Menggunakan comment untuk diskusi
    • Menyiapkan design handoff yang jelas
    • Memahami kebutuhan developer

    Figma digunakan sebagai alat komunikasi, bukan hanya kanvas desain.

    6. Konsistensi dan Design System

    Senior designer membangun sistem, bukan desain satuan.

    Mereka:

    • Menentukan color styles dan text styles
    • Menjaga konsistensi di seluruh produk
    • Memikirkan scalability desain jangka panjang

    Inilah pembeda utama figma profesional dibanding sekadar bisa desain.

    Kesalahan yang Menahan Desainer di Level Junior

    Beberapa kesalahan umum:

    • Tidak belajar design system
    • Mengabaikan auto layout
    • File berantakan dan sulit dibaca
    • Fokus visual tanpa UX
    • Tidak memahami workflow tim

    Menghindari kesalahan ini adalah langkah awal naik level.

    Cara Naik Level Menjadi Figma Profesional

    Agar skill berkembang:
    ✔ Biasakan struktur file rapi
    ✔ Gunakan components dan auto layout
    ✔ Pelajari UX dan user flow
    ✔ Bangun design system sederhana
    ✔ Kerjakan studi kasus seperti proyek nyata

    Latihan dengan standar industri adalah kunci utama.

    Figma profesional bukan soal siapa paling jago fitur, melainkan siapa yang paling siap bekerja di dunia nyata. Senior designer menggunakan Figma sebagai alat berpikir, membangun sistem, dan berkolaborasi secara efisien. Dengan menguasai workflow, UX, dan design system, perbedaan level akan terlihat jelas.

    Baca Juga: Standar Desain UI di Figma untuk Proyek Nyata

    Tingkatkan Skill Figma Profesional Bersama Karisma Academy

    Karisma Academy membantu kamu naik level dari junior ke profesional melalui:

    • Kurikulum Figma berbasis workflow industri
    • Latihan studi kasus UI/UX nyata
    • Review portofolio oleh mentor berpengalaman
    • Sertifikat resmi untuk CV dan LinkedIn

     Gabung sekarang di Karisma Academy
    Bangun skill Figma profesional yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja 

     

  • Figma untuk Portofolio UI/UX yang Layak Dinilai

    blog2.karismaacademy.com/ – Dalam dunia UI/UX, portofolio jauh lebih penting daripada sekadar CV. Banyak recruiter dan studio desain menilai kandidat hampir sepenuhnya dari portofolio Figma yang ditampilkan. Dari situlah terlihat cara berpikir, workflow, hingga kesiapan seseorang bekerja di dunia profesional.

    Masalahnya, masih banyak pemula yang mengira portofolio UI/UX cukup berisi tampilan layar yang “cantik”. Padahal, portofolio Figma yang layak dinilai harus menunjukkan proses desain, pemahaman user, dan struktur kerja yang rapi sesuai standar industri.

    Mengapa Portofolio Figma Sangat Menentukan?

    Figma menjadi tools utama UI/UX karena mendukung kolaborasi, sistem desain, dan workflow profesional. Melalui portofolio, studio ingin melihat:

    • Cara desainer memecahkan masalah
    • Konsistensi desain dan sistem visual
    • Pemahaman UX, bukan hanya UI
    • Kesiapan file untuk handoff ke developer

    Portofolio Figma adalah bukti nyata kemampuan, bukan klaim di CV.

    Baca Juga: Kesalahan Umum Pemula Saat Desain di Figma

    Apa yang Dinilai dari Portofolio Figma Profesional?

    1. Proses Berpikir dan Problem Solving

    Studio tidak hanya melihat hasil akhir. Mereka ingin tahu:

    • Masalah apa yang ingin diselesaikan
    • Siapa target user-nya
    • Kenapa desain dibuat seperti itu

    Portofolio Figma yang baik menampilkan alur dari masalah hingga solusi, bukan sekadar mockup.

    2. Struktur File dan Workflow

    Cara kamu menyusun file di Figma sangat diperhatikan:

    • Penggunaan frame yang jelas
    • Layer dan section tertata rapi
    • Penamaan komponen konsisten

    Struktur file mencerminkan cara kerja profesional dan kesiapan kolaborasi tim.

    3. Penggunaan Components dan Auto Layout

    Desainer profesional wajib memahami sistem desain:

    • Button dan elemen dibuat sebagai component
    • Auto Layout digunakan untuk konsistensi spacing
    • Variants untuk state (hover, active, disabled)

    Portofolio Figma tanpa sistem desain biasanya dianggap masih level pemula.

    4. Konsistensi Visual

    Studio menilai konsistensi dari:

    • Warna dan typography
    • Spacing dan alignment
    • Hierarki visual

    Desain yang konsisten menunjukkan pemahaman UI, bukan sekadar estetika.

    5. Pemahaman UX dan User Flow

    Portofolio Figma yang kuat selalu menampilkan:

    • User flow atau journey
    • Alur navigasi yang logis
    • Hierarki informasi yang jelas

    UI yang cantik tapi UX membingungkan akan langsung terlihat oleh reviewer.

    6. Studi Kasus Nyata atau Simulasi Proyek

    Portofolio terbaik biasanya berisi:

    • Redesign aplikasi nyata
    • Studi kasus masalah sehari-hari
    • Simulasi proyek berbasis brief

    Ini menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan relevansi dengan kebutuhan industri.

    Kesalahan Umum Portofolio Figma Pemula

    Beberapa kesalahan yang sering menurunkan nilai portofolio:

    • Hanya menampilkan satu screen
    • Tidak ada penjelasan proses
    • File berantakan dan tidak terstruktur
    • Desain tidak konsisten
    • Terlalu fokus visual tanpa UX

    Menghindari kesalahan ini akan langsung meningkatkan kualitas portofolio.

    Baca Juga: Standar Desain UI di Figma untuk Proyek Nyata

    Tips Membuat Portofolio Figma yang Layak Dinilai

    Agar portofolio lebih profesional:
    ✔ Tampilkan proses, bukan hanya hasil
    ✔ Gunakan components dan auto layout
    ✔ Susun file rapi dan mudah dibaca
    ✔ Jelaskan user problem dan solusi
    ✔ Pilih 2–3 proyek terbaik, bukan banyak tapi dangkal

    Pendekatan ini membuat portofolio terlihat matang dan siap kerja.

    Portofolio Figma yang layak dinilai bukan soal desain paling keren, tetapi soal cara berpikir, workflow, dan pemahaman UX/UI secara utuh. Dengan struktur file yang rapi, sistem desain yang konsisten, dan studi kasus yang relevan, portofolio akan jauh lebih menarik di mata recruiter dan studio.

    Bangun Portofolio UI/UX Profesional di Karisma Academy

    Karisma Academy membantu kamu membangun portofolio Figma siap industri:

    • Kurikulum UI/UX berbasis studi kasus nyata
    • Latihan membuat portofolio dari nol
    • Review langsung dari mentor profesional
    • Sertifikat resmi untuk CV dan LinkedIn

    Daftar sekarang di Karisma Academy!
    Bangun portofolio Figma yang benar-benar layak dinilai dan siap membuka peluang karier UI/UX 

     

  • Kesalahan Umum Pemula Saat Desain di Figma

    blogkarismaacademy.com – Figma menjadi tools desain UI/UX yang sangat populer di industri digital. Namun, banyak pemula merasa hasil desain mereka terlihat “kurang profesional” meski sudah mengikuti tutorial. Masalahnya sering bukan pada tools, melainkan berbagai kesalahan Figma yang dilakukan tanpa disadari sejak awal belajar.

    Kesalahan ini bisa membuat desain sulit dikembangkan, tidak konsisten, dan jauh dari standar industri. Jika dibiarkan, skill desain akan terasa mandek dan portofolio sulit bersaing. Karena itu, memahami kesalahan umum pemula di Figma menjadi langkah penting untuk naik level sebagai UI/UX designer.

    Mengapa Kesalahan Figma Bisa Menghambat Skill Desain?

    Desain UI/UX bukan hanya soal tampilan menarik, tetapi juga struktur, konsistensi, dan kemudahan kolaborasi. Kesalahan workflow di Figma berdampak langsung pada:

    • Desain yang sulit di-maintain
    • Revisi berulang dan memakan waktu
    • Kolaborasi tim tidak efektif
    • Handoff ke developer bermasalah

    Designer profesional dinilai dari cara bekerja, bukan hanya dari visual akhir.

    Baca Juga: Figma untuk Portofolio UI/UX yang Layak Dinilai

    Kesalahan Figma yang Paling Sering Dilakukan Pemula

    1. Tidak Menggunakan Frame dengan Benar

    Banyak pemula masih menggunakan rectangle sebagai layout utama. Akibatnya, desain tidak responsif dan sulit disesuaikan ke berbagai ukuran layar.

    Solusi: Gunakan Frame untuk setiap screen agar desain mengikuti standar device dan mudah diatur.

    2. Mengabaikan Auto Layout

    Salah satu kesalahan Figma yang paling umum adalah tidak memanfaatkan Auto Layout. Padahal fitur ini sangat penting untuk desain yang fleksibel dan scalable.

    Solusi: Gunakan Auto Layout untuk button, card, dan list agar spacing konsisten dan mudah diubah.

    3. Tidak Konsisten dengan Spacing dan Alignment

    Desain terlihat “berantakan” karena jarak antar elemen tidak konsisten. Pemula sering mengatur jarak secara manual tanpa sistem.

    Solusi: Gunakan grid, spacing system, dan alignment tools agar tampilan lebih rapi dan profesional.

    4. Tidak Menggunakan Components

    Pemula sering menduplikasi elemen secara manual. Saat revisi, semua harus diubah satu per satu, sehingga memakan waktu.

    Solusi: Buat Components dan Variants untuk button, navbar, dan elemen berulang agar workflow lebih efisien.

    5. Warna dan Typography Tidak Terstruktur

    Kesalahan Figma lainnya adalah menggunakan warna dan font secara acak. Hal ini membuat desain tidak konsisten dan sulit dikembangkan.

    Solusi: Gunakan Color Styles dan Text Styles agar desain lebih terorganisir dan sesuai standar UI.

    6. Tidak Memperhatikan Naming dan Layer Structure

    Layer dengan nama default seperti “Rectangle 1” atau “Frame 23” menyulitkan kolaborasi dan handoff ke developer.

    Solusi: Biasakan memberi nama layer yang jelas dan gunakan grouping atau section.

    7. Desain Tanpa Memikirkan UX

    Pemula sering fokus pada visual cantik, tetapi lupa alur pengguna. Akibatnya, desain terlihat bagus namun membingungkan saat digunakan.

    Solusi: Pahami user flow, hierarchy visual, dan tujuan tiap screen sebelum mendesain.

    Dampak Jika Kesalahan Figma Terus Dilakukan

    Jika kesalahan ini dibiarkan:

    • Skill desain sulit berkembang
    • Portofolio terlihat amatir
    • Waktu kerja tidak efisien
    • Sulit bekerja dalam tim profesional
    • Peluang karier UI/UX terhambat

    Sebaliknya, memperbaiki kesalahan sejak dini mempercepat transisi dari pemula ke level profesional.

    Cara Menghindari Kesalahan Figma

    Agar skill desain meningkat, pemula perlu:
    ✔ Menerapkan workflow berbasis sistem
    ✔ Menggunakan Auto Layout dan Components
    ✔ Menjaga konsistensi warna dan typography
    ✔ Memikirkan UX sebelum visual
    ✔ Belajar sesuai standar industri

    Pendekatan ini membuat desain lebih rapi, scalable, dan siap masuk dunia kerja.

    Kesalahan Figma yang sering dilakukan pemula bukan berasal dari tools, tetapi dari cara penggunaan dan workflow yang kurang tepat. Dengan memahami frame, auto layout, component, dan struktur desain yang benar, kualitas desain UI/UX akan meningkat signifikan dan lebih siap dinilai profesional.

    Baca Juga: Skill Figma yang Membedakan Junior dan Senior Designer

    Belajar Figma Profesional di Karisma Academy

    Karisma Academy menyediakan kelas Figma dari dasar hingga siap industri:

    • Kurikulum UI/UX sesuai kebutuhan dunia kerja
    • Latihan studi kasus dan proyek nyata
    • Bimbingan mentor profesional
    • Sertifikat resmi untuk CV dan portofolio

     Daftar sekarang di Karisma Academy!
    Hindari kesalahan pemula dan bangun skill Figma profesional yang siap bersaing di industri digital 🚀